Saya tahu masalah yang dibahas memang tidak menarik tetapi entah mengapa saya tetap "gatal" untuk menulisnya disini. Ceritanya begini,
“Agama bagi saya adalah untuk ditaati dan dijalankan, bukan untuk dibanding-bandingkan.” Sebuah komentar serius yang dilontarkan dengan santai oleh seorang teman di kantin kampus pada jam makan siang. Secara pasti komentar itu pasti ditujukan kepada saya karena teman bicaranya pada saat itu hanyalah saya. Saya hanya tersenyum membalasnya komentarnya dengan sedikit berdehem sok wibawa. Saya kemudian mengalihkan pembicaraan pada topik yang lebih menarik untuk dibicarakan pada siang itu.
Pada perjalanan pulang dari kampus, saya kembali memikirkan komentar teman saya tersebut. Saya mencoba mengerti apa yang dimaksud dengan kata banding dengan segala variasinya. Sederhananya bagi saya kata banding digunakan untuk menilai atau memahami suatu hal dengan memposisikan hal itu dengan hal yang lain. Digunakan untuk menilai karena dengan melewati kata banding suatu hal itu akan lebih jelas diketahui. Suatu hal itu kemudian akan dapat diberikan identitas. Begitu pula dengan suatu hal yang dianggap sebagai pembanding itu pun menjadi jelas posisinya apa dan dimana. Dengan demikian bagaimana kita mengetahui bagaimana kita memperlakukan hal-hal yang dibandingkan tersebut. Saya rasa, kata banding itu sangat cocok dengan watak manusia yang selalu ingin mengetahui. Manusia mengetahui dan menyadari sesuatu karena membandingkannya dengan apa yang ia dapat sebelumnya.
Hal lain yang menjadi perhatian saya adalah penempatan kata banding di kalimat itu yang berada di setelah kata bukan. Disarankan aktivitas membanding-bandingkan untuk tidak dilakukan karena tidak tepat atau bahkan salah, begitu kira-kira yang bisa dimengerti dari kalimat itu. Lebih baik agama itu dijalankan saja, janganlah melihat ke sekitar anda apalagi mencoba untuk menanyakan agama itu sendiri yang diwakilkan dengan kata ditaati. Karena ini berbicara tentang agama, agaknya logika demikian tidak sejalan dengan apa yang saya pahami dalam Islam. Walaupun seorang awam saya rasa tidak ada salahnya untuk setiap saat mencoba menjadi religius. Saya paling terkesan dengan kalimat tanya retorik Al Qur’an yang menyertakan frase “apakah sama”. Disini Al Qur’an jelas membandingkan dua hal dengan tujuan Muslim mengambil kesimpulan jalan atau figure mana yang akan mereka contoh. Bahkan dalam Surah An Nahl Allah membandingkan dirinya dengan suatu yang lain agar Muslim melihat bahwa Ia memang pantas disembah. Allah menjelaskan bahwa diriNyalah yang menggerakkan sistem kehidupan di dunia ini dengan menurunkan air hujan, menumbuhkan tumbuhan untuk dimanfaatkan manusia, mengatur hubungan tata surya, gunung dan laut serta segalanya. Kemudian di ayat 16, Allah bertanya, “Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) ?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” Saya rasa Tuhan menginginkan manusia untuk tidak hanya menjalankan begitu saja apa yang diperintahkan tetapi Ia memberikan manusia segala sarana untuk mempertanyakan, membandingkan, menganalisa, dan segala usaha lainnya yang manusia ingin melewatinya.
Saya ingin melihat kepada Ibrahim. Karena bagi saya, ialah manusia pertama yang mempunyai iman sejati melewati pengalaman, pertanyaan dan pemberontakan beliau. Surah Al An’aam 74 - 79, Allah membuka cerita sejarah itu dengan pertanyaan Ibrahim kepada ayahnya, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?” dan kemudian mulai memperlihatkan tanda-tanda yang nanti membuat Ibrahim berpikir, pertama diperlihatkanlah bintang, “Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam.". Setelah itu bulan, “Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat." Kemudian matahari, “Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” Dan akhirnya beliau mengambil kesimpulan, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” Dari cerita ini, saya memahami bahwa dengan melewati perbandingan, iman sejati itu akan tumbuh dengan sendirinya dan agama menjadi tidak sekedar “menjalankan dan menaati”.
Saya tidak pernah bisa menerima beberapa Muslim yang sangat paranoid dengan kata perbandingan apalagi menyangkut masalah agama. Almarhum Mukti Ali memberikan 10 poin pentingnya perbandingan agama di dalam bukunya “ilmu perbandingan agama” yang mana kesemuannya adalah agar Muslim semakin yakin akan keislamannya. Dengan mengetahui, membandingkan kemudian memahami berbagai kehidupan batin dan alam pikiran manusia tentang agama dan Tuhan semakin mendewasakan pengalaman keagamaan yang ia peluk. Tentang agama yang dibandingkan dengan Islam, cara memperlakukannya adalah dengan mengungkapkan secara santun apa adanya menurut yang mereka percayai seraya tetap memegang nilai kebebasan beragama. Seperti apa yang diungkap oleh Abu Raihan ibn Ahmad al Biruni, tokoh muslim awal abad 11 masehi yang menulis tentang Hinduisme. Dalam bukunya, ia sepertinya mengerti bahwa apa yang ia lakukan akan mengundang ketidaksenangan kaum muslimin, oleh karenanya kepada kaum muslim ia menulis, “Jika isi kutipan-kutipan ini dirasakan sangat paganistis, dan para pengikut kebenaran, yaitu kaum muslimin, merasa keberatan terhadapnya, maka saya hanya dapat mengatakan bahwa demikian itulah keyakinan orang-orang Hindu dan mereka sangat membelanya”. Oleh karenanya, mengapa merasa “terancam” dengan perbandingan? Masalahnya bukan di perbandingan tapi bagaimana memperlakukannya kemudian.
Saya tetap akan selalu mengamini kalimat yang sering diucapkan Max Muller, bapak perbandingan agama modern itu, “He who knows one, knows none.” Amien, ya Rabbal ‘Alamien.
Kata Kata Guntur at 8:52 AM
|