Sejak kecil saya menyukai cerita nabi-nabi, jika kebetulan ibu lagi ke pasar yang saya tunggu adalah ia akan membelikan sebuah buku berisi kisah para nabi. Nabi Yusuf adalah salah satu favorit saya. Ia diceritakan sangat tampan dan pintar. Tentang ketampanannya, di sekolah saya diberikan pengandaian jika sebuah bulan purnama itu dibelah, setengah belahannya akan menjadi milik Yusuf, seperempatnya adalah Muhammad dan seperempatnya lagi dibagi-bagi kepada seluruh manusia yang pernah ada di bumi ini. Jadi seganteng apapun anda, tidak akan bisa mengalahkan Yusuf
Tetapi perjalanan hidup Yusuf tidak semulus parasnya, setelah dikhianati oleh saudara-saudaranya dan berpisah dari ayah yang dicintainya, Yakub, ia akhirnya dijual ke saudagar kaya di Mesir sebagai budak. Saudagar itu adalah Qifthir dan mempunyai seorang istri bernama Zulaikha. Yusuf dewasa yang selama itu telah bekerja untuk tuannya ternyata menarik perhatian Zulaikha hingga suatu saat ia menggoda Yusuf untuk melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan kepadanya. Setelah menutup semua pintu-pintu, Zulaikha pun semakin gencar melaksanakan aksinya hingga Yusuf hampir terpedaya dan melakukan perbuatan yang dikehendaki Zulaikha. Tetapi, pada akhirnya dengan keimanan yang kuat, Yusuf berhasil menghindarinya dengan cara berlari ke pintu dengan tangan Zulaikha yang berhasil menarik baju Yusuf hingga robek bagian belakangnya. Tak disangka, Qifthir berada di depan pintu, Zulaikha dengan cepat membaca keadaan itu dan malah berkata kepada suaminya, “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?". Yusuf tidak berusaha menyerang balik wanita itu dengan perkataan kasar atau perbuatan lain yang seharusnya pantas ia lakukan untuk membela dirinya karena bukan permasalahan kecil yang dihadapinya, ia hanya menjawab dengan sepotong kalimat, “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)" Kasus itu memang akhirnya memutuskan bahwa Zulaikha lah yang bersalah dengan bukti baju Yusuf yang robek dibelakang sebagai tanda bahwa Zulaikha yang memaksa Yusuf untuk melakukan perbuatan itu.
Zulaikha sebagai istri pesohor Mesir tidak terima dengan hal itu, apalagi ia dipermalukan dengan ucapan Qifthir kepadanya, “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar dan mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.” Maka ia mengundang seluruh wanita-wanita terkemuka Mesir pada saat itu untuk melakukan perjamuan makan di rumahnya karena atas perlakuannya terhadap Yusuf ia telah menjadi bahan pergunjingan seluruh Mesir. Ia ingin membuktikan bahwa walaupun ia telah bersalah adalah wajar jika ia ingin melakukan perbuatan itu kepada Yusuf. Ketika wanita-wanita itu telah berkumpul disuruhlah Yusuf untuk keluar agar mereka dapat melihatnya. Seketika tercenganglah wanita-wanita itu sampai sebagian mereka tidak sadar bahwa jari mereka terluka terkena pisau yang mereka pegang. Dan berkatalah Zulaikha, “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina.”
Yusuf seolah-olah mengetahui posisinya, bahwa Zulaikha memang sangat tertarik kepadanya dan jika ia tidak keluar dari permasalahan ini maka permasalahan yang lebih besar akan timbul, bukan hanya posisinya sebagai budak tetapi juga tuannya telah berbuat baik padanya selama ia sebagai budak. Pula dari awal ia telah mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” Sekarang ataupun nanti. Ia akhirnya memilih untuk keluar dari lingkaran permasalahan dengan memilih untuk dimasukkan ke dalam penjara, ia mengatakan, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” Dan dipenjaralah Yusuf sampai akhirnya ia dikeluarkan untuk membantu pemerintahan Mesir sebagai bendaharawan dan menemui Zulaikha telah tersadar akan perbuatannya yang salah, “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.”
Memang sih tidak bisa disamakan kehidupan Yusuf dengan kita sekarang, kita mempunyai banyak pilihan untuk menghindari semacam godaan tadi dan tidak harus masuk penjara untuk menghindari permasalahan itu. Tetapi ada dua hal yang menurut saya penting dari cerita nabi tampan diatas menyangkut tentang permasalahan godaan-godaan yang banyak diperbincangkan orang-orang yang merasa berkepentingan untuk membasminya.
Hal pertama adalah godaan itu tidak akan pernah selesai walaupun dihadang bagaimanapun. Ia akan berubah menjadi bentuk yang lain jika bentuk sebelumnya dihadang. Ia akan mengelabui manusia yang bertindak sebagai pembasminya melalui jalan menyerupai teman dan bahkan menyusupi manusia-manusia yang dikira dapat dilindungi oleh para manusia pembasmi godaan itu. Tidak heran, terkadang dalam keseharian kita berkata, “kok bisa?” menyangka tidak mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi dan, “padahal kan…” menyangka bahwa senjata untuk membasmi godaan itu sudah dimiliki manusia-manusia yang terlibat dalam sesuatu yang buruk itu. Mungkin ada yang dilupakan oleh manusia pembasmi godaan itu bahwa godaan itu sama tuanya dengan umur manusia itu sendiri. Ia telah ada dan akan selalu ada. Jikalau pengalamannya sama canggihnya dengan manusia, bagaimana akan menghilangkannya? Seperti Yusuf, setelah gagal diperdaya godaan tadi, maka godaan tadi berubah menjadi ancaman. Eh tetapi Yusuf berhasil mengatasi godaan itu dan menang? Itu menyangkut hal yang ke dua.
Hal kedua adalah bagaimana memperlakukan godaan. Godaan ada dengan sebab dan Yusuf mengerti sebabnya. Zulaikha sangat menginginkan dirinya dan mengundang wanita-wanita Mesir sudah menggambarkan betapa besar ketertarikan Zulaikha terhadapnya. Dan Yusuf adalah penyebab godaan itu. Jika ia tidak berada di sekitar Zulaikha lagi maka godaan itu akan berangsur-angsur hilang dan penjara adalah tempat Yusuf untuk tidak berada di sekitar Zulaikha. Seperti pengalaman Yusuf, godaan yang akan dibasmi itu pasti ada penyebabnya dan selama itu masih ada godaan akan terus menghantui. Dan hal yang tidak dilihat dari manusia pembasmi godaan itu adalah penyebab adanya godaan tersebut. Mereka terpedaya dengan liukan dan keindahan tarian godaan itu. Dikiranya godaan itu adalah masalahnya padahal mereka hanya tidak bisa menemukan tempat persembunyian yang dilakukan godaan untuk menyembunyikan penyebab keberadaannya sendiri.
Semoga mereka, manusia-manusia itu mendengar teriakan-teriakan penyebab yang hampir putus asa tak terdengar.
Kata Kata Guntur at 3:32 AM
|