
Teman saya bilang, "Sungguh saya percaya Tuhan tetapi saya tidak percaya ritual kaum beragama sekarang dan Tuhan yang mereka percaya." Yang lain bilang, "Saya sudah merasa bosan dengan agama sekarang, dimana saya bisa mengambil lagi perasaan saya terhadap agama seperti saat saya kecil." Yang lain lagi bilang, "Hidupku sudah kupersembahkan seluruhnya kepada agama. Aku sungguh tak peduli akan apapun."
Saya kadang berfikir, apakah Tuhan nantinya mempertimbangkan pengalaman pengalaman keagamaan selain dari patokan yang sudah ditulis dalam kitab suci?
Kebanyakan teman saya yang muslim termasuk saya memang besar di keluarga yang beragama islam. Sejak lahir tentu saja menurut tradisi muslim mereka sudah diperkenalkan dengan sesuatu yang berbau islam walaupun mereka hanya mendengar. Suara azan, kata Allah, Muhammad, Shalat dan Syahadat. Dan tentu saja mereka melewati acara "penebusan" mereka, aqiqah, dua ekor kambing bagi bayi laki laki dan seekor bagi bayi perempuan. Masuk TPA dan MDA setelah sekolah biasa pun mereka jalani. Malam setelah maghrib sampai menjelang isya mereka kebanyakan kembali mengaji di surau atau mushola dengan ustadz. Belajar puasa sedari kecil dan amat senang melakoninya. Beberapa dari mereka bahkan melanjutkan di pesantren yang akrab dengan kitab kuning, sarung, kyai, bahasa arab, masjid, iktikaf, tahajud, dan lain sebagainya.
Seiring berjalan waktu, ketika mata mulai terbuka, melihat ke kitab suci dan sekaligus ke dunia nyata, apa yang dulu jelas tiba tiba kabur, apa yang dahulu dipercayai dengan sepenuh hati sekarang hanya tinggal setengah, naluri mencari mulai tumbuh dan meninggalkan semua atribut yang dulu dipasang dengan bangga. Mungkin bisa juga salah langkah apa yang dialami sekarang dan mungkin saja bisa benar. Tetapi siapa yang tahu.
"Saya akan terus berjalan mencariNya, dengan sendiri, dengan hati, dengan rasa..." Kata teman saya. Saya menoleh ke dua yang lain, menunggu jawaban mereka.
Kata Kata Guntur at 2:45 AM
|