
Allahu Akbar Allahu Akbar
Laa ilah ila Allah Allahu Akbar
Allahu Akbar Allahu Akbar
Wa lillahil Hamd
Kata Kata Guntur at 12:56 AM
|

Saya dapat resep untuk membuat rendang. Bukan apa apa. Ini mau mudik dan saya kangen sekali rendang bikinan ibu saya. Sekalian juga bentar lagi hari raya, siapa tahu ada yang berniat masak rendang tapi tak tahu caranya, mungkin ini bisa membantu (Memangnya org yg mau bikin rendang sempat-sempatnya datang ke blog ini?! :P). Resepnya dari
sini. Yang ini rendang daging ya.
Bahan:
Daging sapi 1 kg, potong sesuai selera.
Kelapa 2 bh diambil santannya.
Lengkuas 1 ruas.
Serai 1 btg.
Daun kunyit 2 lbr.
garam, gula secukupnya,
Bumbu halus:
Bawang merah 15 bh.
Bawang putih 5 bh.
Ketumbar 1sdm
Kunyit 1 ruas.
Cabai merah giling 100 gram.
Cara memasak:
Tumis bumbu halus dan lengkuas, serai, daun kunyit sampai harum.
Masukkan potongan daging, aduk-aduk tambahkan santan, aduk-aduk masak sampai santan mengering dan daging empuk.
Saya pernah bantu bantu ngaduk rendang. Sumpah ini butuh kesabaran banget. Apalagi kalau masak dalam porsi besar dan rendang itu dipersiapkan untuk jangka waktu yang lama. Daging rendang itu memang harus keras keras lembut gimana gitu. Capek juga. Tapi senang karena dilakukan untuk menyambut hari raya. Seperti puasa yang di dalamnya kita diaduk aduk gak karuan. Hidup normal kita dirombak abis abisan tapi setelah tiga puluh hari kemudian hasilnya akan ketahuan. Apakah kita sabar atau tidak di masa peradukan atau malah bete hehe. Ya sud, saya bentar lagi dijemput travel. Besok pagi sampai Jakarta. Dan beberapa jam setelahnya insya Allah sampai ke kampung. Selamat Idul Fitri semua. Selamat bersuka cita. Nikmati rendang, sop kambing, opor ayam, ketupat atau apa saja. Atas segala kesalahan saya minta maaf.
Kata Kata Guntur at 12:47 AM
|
People killin', people dyin'
Children hurt and you hear them cryin'
Can you practice what you preach
would you turn the other cheek
-Black Eyed Peas
Ditengah merosotnya perekonomian Indonesia, khotbah khotbah agama tidak ikut merosot. Apapun kemasan dan cara penyampaiannya semakin menjadi perhatian. Tidak kalah dengan berita kamar tidur pemain sinetron beberapa episode. Ayat ayat suci diumbar dan aneh aku tak merasakan apa apa. Simbol simbol itu beredar dimana mana dan aneh jiwaku tak tergetar sama sekali. kalimat kalimat itu keluar dengan fasih, dan aneh aku tak tahan mendengarnya berlama lama. Bukan ku tak percaya apa yang mereka katakan, tetapi entah kenapa diriku merasa kering. Ada yang hilang disana. Sesuatu yang membedakan sebuah khotbah penyampai risalah Tuhan dengan tontonan pelepas lelah. Mungkin aku hanya tidak bisa mencium bau bau surga yang mereka semprotkan karena pada kenyataannya yang kuhirup di luar adalah tak lebih harum dari bau comberan. Mungkin aku tidak bisa percaya dengan sorban dan salib mereka karena pada kenyatannya yang berperan adalah bendera dan kursi. Aku menjadi bingung kemana yang suci, sakral, nabi, malaikat, tuhan, pahala. dosa, kitab itu bisa ditemukan.
Kualihkan pandangan, dan di suatu tempat yang jauh disana sepertinya kulihat ada beberapa orang sedang berkumpul. Setelah kuperhatikan siapa mereka, aku tertegun. Benarkah mereka? Kudekatkan diriku berharap bisa mendengar apa yang mereka perbincangkan. Orang pertama dengan antusias memulai pembicaraan, "Saudaraku, sesungguhnya aku sudah menyampaikan kepada orang orang yang percaya kepada risalah Tuhan yang turun kepadaku. Aku mengatakan kepada mereka hal yang sungguh penting." Kupasang telinga untuk mendengarkan lanjutannya, "Ini yang Tuhanku katakan, Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu lakukan? Amat besar kebencian Allah apabila kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu lakukan." Orang kedua kemudian menimpali, "Sungguh benar yang kau katakan saudaraku, pengikutku yang menuliskan ajaranku juga sudah mengetahuinya dan mereka juga menyampaikan kepada orang orang setelahku yang juga mengikuti ajaranku." Orang ketiga bertanya, "Apa yang kau sampaikan?" Orang kedua menjawab, "Aku menyampaikan bahwa orang yang berhati mulia pertama tama mengamalkan apa yang dikhotbahkannya dan baru kemudian mengkhotbahkan apa yang diamalkannya itu." Orang pertama dan kedua mengangguk angguk. Orang ketiga pun urun bicara, "Aku pun tak alpa untuk menyampaikan hal serupa seperti kalian sampaikan kepada orang yang mengikuti ajaranku." Orang pertama bertanya, "Apa yang kau sampaikan saudaraku?" Dengan halus orang ketiga menjawab, "Hati hati akan mulut. Dan bersihkanlah hati karena apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. "
Tampaknya aku menemukan apa yang hilang itu.
Ucapan orang pertama dalam Quran Surat As Shaff 2-3
Ucapan orang kedua dalam ungkapan ungkapan Kong Fu Tse dalam The Analects
Ucapan orang ketiga dalam Matius 15:18-19
Kata Kata Guntur at 10:06 PM
|
Tempat yang paling hot di kalangan mahasiswa pada saat ujian setidaknya ada dua. Yang satu adalah kosan teman yang paling sregep nyatet dan datang ke kelas, yang satu lagi adalah tempat potokopian. Ada yang aneh dari kecenderungan sebagian mahasiswa indonesia dalam belajar. Aneh pertama, menganggap dosen sebagai sentral belajar, sumber dari segala sumber, sehingga hari pertama tak jarang pertanyaan ke dosen, "buku pegangan bapak apa?", kalau sudah di dapat maka berburulah mahasiswa buku itu, buku itu terus dipegang (buku pegangan kan?!) dan berharap saat ujian datang, bahan yang keluar semuanya dari buku itu. Dosen sebagai sumber, sehingga yang keluar dari mulut dosen, apa yang ditulis dosen, apa yang menjadi pikiran dosen dicamkan baik baik dan terpatri dalam hati, kertas, dan flash disk dengan juga harapan yang sama saat mid dan final datang, bahan ujian berasal dari sana semua. Dosen-dosen yang nyadar jika dirinya adalah sentral, tentunya secara sadar potokopi menjadi labuhan terakhir tumpukan kertas bahan ngajarnya. Berburu buku pegangan dosen tentunya tidak masalah, tapi yang mengherankan adalah kenapa tempat berkumpulnya buku buku yang bernama perpustakaan itu relatif sepi, kosong dan bersih di hari-hari biasa. Kemanakah kita wahai mahasiswa? Cukup ya dengan satu buku pegangan, yah pegang aja deh bukunya. Aneh kedua, di kampus, setidaknya kampus saya, kebiasaan mahasiswa di kelas adalah mengisi tempat duduk yang di barisan belakang terlebih dahulu, dan mahasiswa yang mengisi tempat duduk di depan dianggap aneh, apalagi ketika mahasiswa barisan depan itu rajin dan ndilalah waktu sudah hampir habis, sudah deh habis di bantai mahasiswa barisan belakang, atau setidaknya di lempar suara "huuu". Tapi kalau masa ujian telah tiba, mahasiswa barisan depan itu menjadi primadona dan tempat kosan mereka tiba-tiba menjadi pasar bolak balik dari kosan-potokopi.
Saya sih bukan golongan mahasiswa barisan depan atau belakang, atau juga golongan mahasiswa pemburu buku panduan atau penghuni betah perpustakaan tapi yang jelas saya mahasiswa pemburu kursi tepat dibawah air conditioner.
Saya juga merasa ini ada hubungannya dengan masalah menghargai dan menggunakan waktu. Beberapa jam hanya dengan kekayaan beberapa ilmu sebenarnya bisa ditambahi dengan ilmu-ilmu lainnya jika bener-bener menggunakan waktu. Tanpa ada maksud untuk membuat usaha potokopi jadi sepi, kalau kita benar benar menggunakan waktu dengan baik, pasti usaha bolak balik kosan si-rajin-nyatet-dan-bertanya dan potokopi bisa diminimalisir dan perpustakaan semakin rame dan bergairah :P Saya ingat dulu suatu saat pernah janjian ketemu teman di suatu tempat, ketika mau pergi ada teman saya yang lain main ke kos saya, teman smu, jadilah saya mengobrol dengannya sebentar, gak enak ditinggal. Setelah beberapa menit ngobrol dan kemudian pamit dengan sedikit meyakinkannya kalau udah janjian, akhirnya saya bisa juga pergi ke tempat janjian walaupun telat beberapa menit. Baru di jalan sms berbunyi, teman saya sms, kira kira begini, "Kalau Tuhan berkehendak menurunkan hanya satu surat, maka Ia menurunkan surat Al Ashr." Saya merenung sebentar, sengaja gak lama lama karena bahaya merenung sambil mengendarai motor :P tapi saya mengamini sms nya. Betapa dalam makna dan efek yang ada jika dijalankan sepenuhnya. Amin Amin Amin.
""Demi masa! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar." (Surah Al-'Ashr)
Kata Kata Guntur at 10:09 PM
|
Akhir-akhir ini beberapa berita,
"...Bantahan Parman bertentangan dengan keterangan Pono Waluyo, staf Bagian Kendaraan MA. Pono mengungkapkan, selain Bagir Manan, dua anggota majelis hakim, yaitu Parman dan Usman Karim telah menerima uang suap dari Harini. Uang tersebut untuk memperlancar kasasi kasus korupsi hutan tanaman industri yang melibatkan Probo dan merugikan negara sebesar Rp 100,931 miliar..."Di lain sisi,
"Satu lagi jiwa melayang dalam pencairan dana kompensasi bahan bakar minyak. Dia adalah Wadiman. Pria berusia 70 tahun itu meninggal saat ikut mengantre untuk mengambil uang kompensasi di kantor pos setempat, Jumat (14/10) pagi. Warga Dukuh Kracek Rukun Tetangga 10/Rukun Warga 01, Desa Sidomulyo, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, itu adalah penderita asma..."Bagai langit dan bumi. Tidak pernah bertemu. Saya tidak pernah bisa mengerti kenapa manusia bisa mengantongi uang sebanyak milyaran bahkan trilyunan rupiah hanya untuk dirinya dan keluarganya. Untuk apa uang sebanyak itu. Tidak paham bagaimana perasaan mereka ketika mengambil uang itu, apa yang terbayang dan terpikir di kepala mereka. Ketika mereka keluar dari kantor dan melihat realita yang jauh berbeda dari kehidupannya, apa yang mereka rasakan. Makan sesuatu yang tidak seharusnya dimakan. Di lain kehidupan, hanya untuk mendapatkan sesuatu yang memang haknya, harus rela mendapat resiko mati, nyawa melayang. Bayangkan, untuk mendapatkan sepersejuta bahkan lebih jumlah uang, si miskin harus menguras tenaganya setiap hari setiap kesempatan, dan ketika datang sedikit kemudahan, bukanlah uang yang ia dapat, tetapi kematian. Padahal sesuatu itu tidak seberapa. Di tangan koruptor, hak si miskin bisa habis dalam hitungan menit, bahkan detik. Langit dan bumi bisa saling berhubungan. Langit memberikan sesuatu ke bumi atau bumi mengirimkan sesuatu ke langit. Saya tidak pernah mengerti. Yang saya mengerti, apapun yang mempunyai otoritas harus memihak pada si miskin. Apakah itu otoritas politik, agama, ekonomi, apapun itu. Kepada yang benar benar tak berdaya ia harus memihak. Kitab suci sebagai lambang otoritas agama pun harus memihak. Dan ia telah mengatakan sesuatu yang benar.
"Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, maka kecelakaan bagi orang yang sholat yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya dan enggan menolong dengan barang yang berguna". Al Ma'un 1-7
Tampaknya kita memang harus berjihad. Tapi tak usah jauh jauh menyeberang samudera dan bertemu orang yang asing. Bahkan mencelakakan orang lain. Cobalah keluar dan lihat, siapa tahu di sekitar kita ada orang yang sedang berteriak tetapi kita tidak mendengarnya. Tentunya dengan kapasitas dan kemampuan kita masing masing.
Kata Kata Guntur at 8:33 PM
|
Apa yang terjadi di masa depan kehidupan manusia tidak ada yang mengetahuinya. Bagaimana hidupnya sendiri satu detik kemudian pun tidak ada yang dapat memastikan. Apa yang saya bayangkan saat ini tentang suatu hal tidak ada jaminan yang dapat membenarkannya. Karena memang bukan di tangan manusia lah keputusan tentang apapun. Bukan atas kehendak manusia apa yang akan terjadi pada dirinya. Manusia hanya mengusahakan suatu keputusan dan kejadian yang akan menimpa dirinya. Diah, semoga apa yang saya rasakan tentang dirimu, kaupun juga merasakannya.
Diah. Teman sma saya. Sosok yang ceria dan selalu mengesankan. Saya jarang sekali melihat dia di sekolah dengan mulut tanpa senyum dan tawanya. Berkumpul di depan kelas dan membahas hal hal ringan tetapi dirasa penting seperti halnya teman teman perempuan yang lain, tak jarang ia yang memimpin "diskusi" tersebut. Walaupun terkadang tak lucu, tetapi dia tetap tertawa. Dan yang lainnya pun tertawa. Satu hal yang buat saya iri kepadanya adalah kemahirannya dalam akuntansi. Ia yang terbaik di kelas pada pelajaran yang bagi saya sangat membingungkan. Ia tidak pernah membagi rahasianya tentang hidupnya yang penuh tawa itu tapi saya rasa kebahagiaan memang menjadi tema utama dalam kehidupan yang dijalaninya.
Itu dia, dua tahun yang lalu. Sampai kemarin, saya tidak pernah melihatnya lagi. Kita hanya berkomunikasi lewat media seluler. Sampai kemarin, seorang teman yang lain mengabarkan bahwa Diah terkena sebuah penyakit. Penyakit yang membatasi dirinya dalam banyak hal.
Tuhan, saya hampir tidak mengenali dirinya kecuali tawanya yang masih tetap sama seperti dua tahun yang lalu. Tawa yang tulus tetapi dengan energi yang berbeda. Di dalam sakitnya ia masih tetap bisa mengingat banyak hal tentang saya dan teman teman yang lain. Tawa itu ya Tuhan, semoga tetap kau jaga didirinya. Engkaulah yang mempunyai rahasia kehidupan, dan tentu juga rahasia hidup teman saya itu. Semoga Kau mempunyai rencana yang lebih baik bagi masa depannya.
Kata Kata Guntur at 6:55 AM
|
Ia yang lain. Ia yang tak terbahasakan. Ia yang tak terbayangkan. Ingatkah kisah Musa dan sebuah kalimat permohonan yang keluar dari mulutnya?, "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Apa lagi yang perlu dibuktikan dari keberadaanNya? Ia begitu nyata. Tanyalah dan berpikirlah tentang apapun. Bertanyalah terus. Hanya kepada Dia muaranya. Jika memang bentuknya yang kau harapkan, maka jelaslah hanya kesia-siaan yang kau dapatkan. Seperti yang Musa dapatkan. "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Itu jawabNya.
Dan Tuhan, seperti Musa, aku hanya bisa mengatakan, "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".
Kata Kata Guntur at 2:16 AM
|

Kalau puasa, saya gak peduli badan saya akan lemas. Dan juga tidak peduli kalau mata saya akan mudah mengantuk. Tapi ada satu hal yang mengganggu saya ketika puasa. Sebenarnya bukan mengganggu ya, cuma saya risih aja. Hal itu adalah bau mulut. Hanya bau mulut ini yang saya tidak sukai dari puasa. Walaupun Rasul mengatakan di dalam hadistnya bahwa salah satu dari lima keutamaan puasa di bulan Ramadhan adalah bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dibandingkan bau bunga kasturi (baunya gimana?) cukup menenangkan saya. Tetapi tetap saja yang kita hadapi langsung di dunia ini kan bukan Allah. Tetapi sesama manusia yang mempunyai indera penciuman gak jauh beda dengan apa yang kita punya. Bahkan ada juga yang lebih tajam. Yah secara kita sahur dari jam tiga dan akan minum makan lagi 15 jam kemudian, wajar juga sih bau mulut. Untuk mensiasati biasanya saya melakukan beberapa hal,
Banyak melakukan kumur-kumur. Tiga madzhab besar di islam tidak melihat hal ini sebagai hal yang membatalkan, tentunya asalkan airnya tidak di telan lah. Jadi puasa ini, saya banyak melakukan kumur kumur. Sebelum masuk kelas, sebelum ngumpul, sebelum keluar kamar, walaupun gak ngaruh banget tetapi lumayan lah.
Saat sikat gigi, lidah juga disikat. Sebenarnya sikat gigi yang baik yah lidah juga harus disikat. Tapi terkadang tidak semua orang memperhatikan hal ini ya. Selain itu, tentunya harus rajin sikatan ketika ada kesempatan.
Bicara kepada teman dengan menggunakan bahasa isyarat :P Angguk-angguk, geleng geleng, gerakan tangan juga bisa. Atau bisa juga dengan menggunakan medium, misalnya sms, walaupun cuma berjarak 1 meter (boros abis!) atau dengan kertas, jadi berasa chatting tanpa internet :P
Langkah terakhir menghindari bau mulut tentu saja sangat mudah. Yaitu, diam :P
Terus apa lagi ya?
Kata Kata Guntur at 7:37 AM
|
Seperti konsep dualisme dalam Zoroastrianism, dimana Spenta Mainyu dan Angra Mainyu saling bertempur dalam sebuah pertandingan, begitu juga dengan kehidupan manusia. Setelah datang yang buruk, akan datang yang baik. Setelah menerima kesedihan, kebahagiaan akan datang secara tak disangka. Baru beberapa minggu yang lalu, salah satu mbah saya, adik dari mbah putri dari pihak ibu saya, meninggal dunia. Ia meninggal karena sakit stroke yang sudah sejak tiga tahun dideritanya. Saya merasa kehilangan karena ia salah satu anggota keluarga yang mempunyai pengaruh dan karakter yang kuat dalam keluarga besar kami. Tapi, kembali kepadaNya adalah suatu kepastian. Jadi, peristiwa sedih itu tidak lama berbekas di saya. Sampai kemarin, ayah saya sms, kalo dua adiknya sudah "isi". Adik perempuan ayah, saya panggil bulek. Jadi dua bulek saya itu nikahnya berbarengan. Rencananya tidak. Tetapi ketika bulek saya yang satunya dilamar, entah gak tau gimana, calon bulek saya yang satu lagi ikutan melamar juga. Ada ada saja. Jadi mereka akad dan pestanya bersamaan. Lumayan menghemat. Karena itu, hamilnya pun mereka bersamaan. Hore, dapat adik sepupu lagi. Rupanya, Spenta Mainyu masih melancarkan senjatanya, tidak lama kemudian, ibu mengabarkan kalo anak abangnya ibu, kakak sepupu saya, akhirnya memakai toga juga. Kenapa akhirnya? Karena perjalanannya untuk lulus itu saya dengar tidak gampang. Banyak halangan yang merintanginya. Kakak saya yang akhwat dan sangat rindu dengan syariat islam itu berada di antara lima orang lainnya yang mendapatkan predikat terbaik. Senang sekali mendengarnya.
Apalagi ya berita yang akan saya dengar berikutnya?
Kata Kata Guntur at 9:56 PM
|
Seorang teman sms, "Tur, gimana kabarmu? Kamu ada kitab suci agama kristen katolik gak dan seputar aspek ritus ritus ibadah? Aku ada tugas SAA, kalo ada kupinjam." +62852...
Segera saja sewaktu pergi shalat taraweh, saya juga membawa Alkitab, dua jilid buku pendalaman iman katolik nya pendeta Mc O'bride dan buku agama kita dengan editornya pak Djam'annuri untuk sumber literatur dia. Sesampainya di kos temen saya itu, saya tunjukkan hal-hal pokok dalam agama Katolik sepengetahuan saya, terutama yang membedakannya dengan Kristen Protestan. Dari hierarkis Gereja Katolik dan pengaruhnya, sakramen inisiasi sampai pentahbisan.
Ditengah-tengah, "Tur, bagaimana nyari ayat ini." Ia menunjuk sebuah ayat dari injil Lukas. Teman saya yang lain sambil memegang Alkitab itu bertanya, "Ini injil apa? Perjanjian lama atau baru?" Dan banyak pertanyaan lain. Saya, walaupun dengan terbata-bata mencoba menjelaskan, tapi tidak tau mereka paham atau tidak :P Dan memang terasa berat sekali bagi mereka, saya merasakan aura yang terpancar dari wajah mereka.
Teman saya bukan mahasiswa yang studinya concern ke ilmu agama-agama. Tetapi, mata kuliah Sejarah Agama Agama memang menjadi mata kuliah umum seluruh fakultas di IAIN seluruh Indonesia. Saya bersyukur akan hal itu, karena mengakui perbedaan tidak cukup dengan hanya mengetahuinya dan kemudian diam, harus ada saling kepahaman apa dan kenapa di balik perbedaan itu. Dengan menggalinya, apa yang sebelumnya ada di dalam bayangan bisa jadi tidak seharusnya ada disana. Walaupun usaha itu berat dan harus ada ketulusan menyertainya.
*mengisi waktu luang antara make up class yang kosong sama kelas reguler mata kuliah yang sama. Lapeerrrrrrrrrrrr
Kata Kata Guntur at 12:27 AM
|

Terjebak dalam rutinitas. Apapun bentuknya. Disadari atau tidak menjadi suatu yang niscaya bagi kehidupan manusia. Manusia seakan akan hidup dalam polanya yang sudah pasti dan harus dijalani. Kalau tidak dijalani, kehidupan manusia seolah olah akan berantakan dan tidak nyaman. Di dalam rutinitas manusia terkadang lupa akan hal-hal lain yang meliputi kehidupannya. Manusia menjadi kebal dan tidak peka. Jangankan untuk peka, rutinitas itu sendiri sudah menutup rasa peka itu sehingga tidak bisa menyentuh hati manusia.
Ramadhan adalah salah satu jalan untuk membuka sekat itu.
Dengannya, manusia menjadi mengerti bagaimana sebagian manusia lain hidup. Ia merasakan bahwa tidak semua barometer kehidupan ini diukur dari kehidupan pribadinya. Hidup itu beragam. Rasa itu beragam. Dengannya juga, manusia jadi semakin merasakan bahwa hidupnya memang dibawah Kuasa. Kenikmatan dan kebebasan selama ini tidak pernah seluruhnya menjadi milik manusia. Ada yang mengaturnya. Ada yang mengawasi tiada henti tiada tidur tiada alpa. Manusia semakin mengerti bagaimana jika sebagian rutinitasnya diambil atau dihentikan. Bagaimana manusia bereaksi akan hal itu? Di fase puasa inilah segalanya terjawab. Apakah kita benar benar sudah tenggelam dalam rutinitas yang menenggelamkan hati dan perasaan kita? Kalau iya, apakah kita mau belajar mengasah hati itu lagi? Ramadhan. Tentunya bagi kita yang meyakininya terlalu sederhana jika dianggap sebagai bulan pengumpulan pahala, tanpa mecoba menggali rahasia rahasia agung dibaliknya.
Selamat Berpuasa.
Kata Kata Guntur at 11:29 PM
|
Manusia modern, apalagi yang beragama sangat anti jika budaya dan mentalnya dikaitkan dengan budaya dan mental primitif. Padahal apa yang dihasilkan oleh orang-orang primitif adalah hasil yang jujur. Kepercayaan, mental dan kebudayaan primitif adalah benih benih dari seluruh peradaban manusia yang katanya modern, maju dan beradab. Jika merujuk pada pendapatnya Sir Edward Taylor tentang tahap tahap agama, maka ia berpendapat bahwa the first stage of religion adalah animisme dan dinamisme. Kepercayaan akan adanya kekuatan jiwa dan ruh yang melingkupi dan menguasai kehidupan manusia. Ruh itu ada yang tidak berhubungan langsung dengan objek, ada juga yang bersemayam. Ruh itu begitu mempengaruhi kehidupan manusia sehingga manusia harus mampu menangkap dan menjawab serta memberikan sesuatu agar ruh itu tetap tenang dan membiarkan juga merelakan agar manusia hidup dengan tenang bahagia. Salah satu caranya ialah dengan memberikan pengorbanan. Dari pengorbanan hasil bumi berupa sesajen, pengorbanan hewan hewan yang dianggap suci sampai pengorbanan manusia. Rasa dan kebutuhan untuk memberikan sesuatu kepada yang Utama demi kebaikan pribadi dan ketaatan kepada Kekuatan Yang Lain itu adalah murni mental manusia yang kemudian diidentikkan dengan kebudayaan primitif. Padahal sebagai hasil murni penggalian budi daya manusia, mental ini tidak dapat hilang di agama agama "mapan" dewasa ini. Ia tidak hilang, tetapi semangat yang ada agak sedikit berubah. Ia mengubah dirinya sehingga tampak seperti hasil budaya yang lebih maju dari sebelumnya. Tapi esensi tidak pernah beranjak. Di dalam Kristen, pengorbanan itu identik dengan keselamatan. Sang Messiah rela menderita karena cintanya yang luar biasa pada umat manusia. Malah, Petrus menggambarkan Ia, yang pendiam itu berjalan dan dengan kerelaannya menjadi penebus umat manusia, ketika Dia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan caci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam; tetapi Ia menyerahkan-Nya kepada Dia yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di atas kayu salib, supaya kita yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. (1 Petrus 2:23-24).
Di Islam, dan juga di dalam kitab perjanjian lama, pengorbanan itu adalah wujud keikhlasan, ketaatan dan kepatuhan tanpa tanya kepada Tuhan. Ia hanya mempunyai satu syarat. Satu keyakinan. Keyakinan bahwa apa yang dimiliki manusia sesungguhnya tidak dimilikinya walaupun sangat dicintai. Manusia adalah papa tak mempunyai apa apa. kepemilikian manusia atas apapun adalah dariNya. Dan memberikannya kembali adalah biasa bahkan kita tidak perlu lama lama bertanya kenapa. Semata-mata pengorbanan itu adalah ketakwaan, seperti di dalam Hajj 37, "Daging-daging unta dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang sampai kepada-Nya." Bukan yang engkau korbankan yang akan sampai, tetapi apa niatan untuk korbanmu yang penting untukNya.
Sekali lagi, esensi pengorbanan dari dulu tidak pernah berubah. Ia adalah ketaatan, keselamatan, kepatuhan. Ia muncul dari hal hal kecil sampai yang keji, korban yang tidak hanya melibatkan dirinya sendiri, tetapi juga orang lain yang tidak ingin terlibat bahkan tidak pernah terfikir akan menjadi bagian dari pengorbanan. Keji, kata ini tentunya bisa menempel di keyakinan apapun. Tak memilih. Di dalam yang keji, kemurnian ternoda. Kesucian terpinggirkan. Ia pamrih kepada Tuhan. Bahkan ia tidak peduli bahwa banyak yang akan turut dikorbankan walaupun mereka enggan, asal tujuan pengorbanan itu tercapai. Tapi diriku yakin, itu tidak akan pernah mencapai, bahkan mengetuk pintuNya yang Agung pun tidak.
Duka bagi Indonesia dan seluruh korban hasil pengorbanan keji (kembali) di Bali.
Kata Kata Guntur at 10:19 PM
|