Weblog Siapa?

Friday, September 30, 2005

Tugas Ini Tugas Itu

Disaat orang lain sibuk antri BBM, demonstrasi yang gak bakalan juga didengar, ribut ribut masalah sepele nya Anjasmara, teman teman pada pelatihan kader ini itu, saya melakukan hal lain. Bukan hal yang baru, cuma kali ini dalam proporsi yang lebih banyak, bahkan berlebihan. Menyebalkan. Mau meninggalkan hal itu, nanti konsekuensi nya saya juga yang kena. Bukan hanya saya ding, orang tua juga kena. Sampai sampai hal itu membuat saya meriang dan terkadang mengalami disorientasi. Kok kesannya hal itu parah bgt ya? Emang kok!

Hal itu adalah tugas kampus yang menumpuk! Ya Allah, Tuhan Maha Besar, ini benar benar menumpuk.

Iya, saya tahu. Gak usah dibilang. Gak usah diperingatin kalo tugas tugas menumpuk itu adalah konsekuensi yang diambil oleh seseorang berlabel mahasiswa. Dan juga jangan dibilang kalo saya sedang mengeluh. Gak kok. Ini cuma salah satu cara mendinginkan suasana badan dan hati. Saya mengerti kalau tugas dari dosen itu penting. Ini kan salah satu cara untuk mengetahui apakah kita mengerti atau tidak materi yang disampaikan oleh tetua di kelas. Padahal bisa saja kan tugas itu tidak mencerminkan tujuan dari tugas itu. Bisa saja jiplak dari teman, bisa aja yang ngerjain kakak atau orang tua, bisa aja copy paste dari internet, bisa aja beli jasa, masih banyak lagi bisa saja bisa saja yang lain. Tapi gak usahlah mikirin yang gak bener kayak gitu. Anggap aja kita benar benar tulus dalam mengerjakan tugas itu ya. Anggap ini misi mulia. Ingat loh, kalau kita meninggal dalam menuntut ilmu, ganjarannya pahala. Tapi tergantung juga, kalo ngerjain tugasnya sambil ngerumpi yang gak bener, kalo ngerjainnya sambil grapa grepe, kalo ngerjainnya..*disambit parang*. Ya udah, anggap aja kita serius ngerjain tugas dengan niat yang bener. Berarti udah gak ada masalah dengan diri kita. Tapi bagaimana jika masalah itu kemudian datang dari pihak luar? Siapa dia? Dosen dong. Masak ibu penjaga kantin. Kita kan gak tau niat dosen itu ngasih tugas. Iya kalo dia jujur dan ngerti esensi dan signifikansi sebuah tugas. Gimana kalo ada kepentingan kepentingan lain yang tidak etis (batas etis itu apa coba?). Bagaimana dong?

Ah, kayaknya gara gara kebanyakan tugas saya jadi mikir yang gak gak. Gak mungkin ada dosen yang kayak gitu. Bukankah mereka juga pahlawan tanpa tanda jasa? ;)

Kata Kata Guntur at 4:42 AM

|

Tuesday, September 27, 2005

Warna utama, asing dan lain


Indonesia bukan negara-agama. Ia tidak menempelkan begitu saja bacaan bacaan kitab suci didalam dinding dinding rumahnya. Ia mengambil ruh kebaikan agama yang ada. Oleh karena itu tidak ada agama yang lebih dari lainnya di negeri ini, tidak ada yang lebih istimewa dari yang lainnya. Semuanya dalam satu garis lurus yang sama. Walaupun tidak ada definisi agama yang tepat sehingga dapat memilah sistem yang satu apakah agama atau tidak, tapi indonesia mempunyai cara tersendiri menilai sistem sistem itu, sehingga hanya ada beberapa warna yang menghiasi dinding dinding rumah Indonesia itu. Warna yang berbeda dianggap "yang lain" atau asing.
Walaupun indonesia menghargai kebebasan warna warna lain itu, tetapi entah karena kesukaan yang berlebihan terhadap warna warna yang utama, secara tidak sadar warna warna yang tak banyak itu mulai tersingkirkan. Bahkan warna warna yang utama itupun karena pengaruh cuasa, panas dingin lembab, antara bagian yang satu dengan yang lainnya mulai menampakkan perbedaan. Tetapi tetap dianggap warna yang sama oleh pembesar di rumah Indonesia. Warna yang asing itu perlahan lahan diarahkan ke warna utama, manusia manusia yang membawa bendera warna tertentu mulai memisikan dan mendakwahkan warnanya kepada warna yang asing itu. Inilah warna yang benar, saudaraku, kau salah memaknai warna yang dibawa oleh pembawa warna yang pertama. Itu yang mereka katakan kira kira. Padahal warna asing itu ada proses kreatif pencampuran warna warna yang sama sama arif. Sebelum warna utama itu datang, mereka sudah mempunyai warna sendiri, dan bangsa ini adalah bangsa yang terbuka, bangsa ini tidak mengusir warna itu, bangsa ini mengambil kebaikan dan kecerahan warna itu untuk mereka leburkan bersama dengan warna yang telah mereka punya.
Di lain bagian rumah indonesia itu, ada warna yang tersingkirkan karena kuatnya pengaruh warna utama itu. Warna yang lain itu menganggap warna resmi itu bisa merusak kemurnian warna mereka. Warna resmi itu tidak sebaik yang dilihat. Didalamnya sudah tercampur dengan zat zat lain yang bukan diperlukan untuk menjaga kemurnian warna utama itu sebenarnya. Tapi pembesar di rumah indonesia itu tidak mau mengerti akan hal ini, mereka tetap saja memaksakan warna utama itu kepada warna yang lain walaupun bibir mereka mengatakan mereka tetap akan menjaga warna warna yang lain dan warna yang utama tidak akan mengganggu warna yang asing atau lain itu.
Sebenarnya untuk apa rumah indonesia itu hanya menetapkan enam warna untuk menghiasi dinding dinding rumahnya? Apa ya?

Kata Kata Guntur at 7:41 PM

|

Sepenggal Surga

Sepenggal surga yang jatuh ke bumi. Itu istilah Emha Ainun Najib untuk Indonesia. Bagaikan di surga, segala keinginan akan dipenuhi dan kemudahan diobral gratis, begitu pula Indonesia. Negeri ini mempunyai segalanya. Tanah yang subur, iklim tropis yang hangat, kekayaan bawah tanah yang melimpah, laut yang indah dan kandungannya yang tak tertandingi, manusia dengan budayanya yang mengagumkan, segala sesuatu yang membuat kita bisa berterima kasih kepadaNya tersedia. Tapi bangsa ini memang tidak pernah serius menerima itu semua. Tidak pernah membaca apa keinginan Tuhan dibalik semua kemudahan yang diberikan olehNya. Bangsa ini terlalu banyak main-main. Terlalu banyak mengejar impian impian yang mereka ciptakan sendiri.
Bagaikan di surga, dimana setiap orang sama, mendapat limpahan karunia yang sama, begitulah seharusnya surga dunia Indonesia. Tapi karena surga itu adalah surga yang bocor, mungkin setan sempat menumpang saat surga itu jatuh ke bumi. Setan itu sempat menanam sebuah pohon yang diambil bibitnya dari surga induk di atas sana. Pohon yang menjadi pelengkap skenario Tuhan dalam film Maha Suksesnya. Pohon itu adalah keserakahan. Batang pohon itu sudah menjalar kemana mana tidak terkendali sehingga leher manusia pun tidak terelakkan dari lilitannya yang kuat. Ia tidak dapat dipotong, karena jika dipotong, manusia yang terkena lilitannya akan jatuh dan kemudian terlempar dari surga dunia itu.
Mungkin Tuhan harus memungut kembali surgaNya yang jatuh itu.



kupersembahkan untuk para penimbun BBM bangsat!

Kata Kata Guntur at 7:17 PM

|

Wednesday, September 21, 2005

Nyut Nyut


Tiba tiba sakit kepala. Terus hilang lagi. Terus kambuh lagi. Gejala apa ya? Apakah aku akan dapat tambahan pesangon dari kampung? Atau ada yang sedang menggosipkan? (yang ini jelas tidak mungkin). Padahal beban hidup ini juga tidak banyak banyak juga. Sehari hari cuma mencari ilmu (hah?!) atau sekali kali hura hura tentu tidak lupa pada sesama :P
Ataukah Tuhan sudah akan memanggilku dan akan mengirim LuciferNya ke kamar kosku yang banyak berhalanya itu? Aduh aduh Gusti!
nb: yang kasihan boleh mengirimkan bantuan apapun, terutama bantuan finansial ke rekening pribadi di BCA 037190****** atas nama Guntur Eko...hihihi..

Kata Kata Guntur at 11:39 PM

|

Makhluk Aneh

Membayangkan dunia ini adalah sebuah kampung yg besar dimana di dalamnya banyak makhluk yang saling bertumpang tindih, bergesekan, saling menikam, walaupun tidak jarang saling membelai mesra. Sangking besarnya, makhluk makhluk yang berada di dalam dunia itu sudah saling tidak mengenal lagi, walaupun mereka berasal dari satu benih, mereka mempercayai sesuatu yang sama, mensimbolisasikan dunia dengan satu bahasa yang sama, menghadirkan Yang Misterius dengan jalan yang identik. Mereka berpisah dan hubungan antara mereka dihalangi oleh garis berwarna merah dan sehelai kain berwarna. Makhluk makhluk itu berpendapat mereka tengah menjaga dan mengagungkan jati diri mereka tinggi tinggi, tetapi secara tidak sadar yang mereka perjuangkan hanyalah sehelai kain yang tak lebih suci dari sebuah keset kaki.
Terlalu seriusnya dengan urusan remeh temeh itu, mereka mulai menghadapi masalah dengan makhluk makhluk lain di dalam diri mereka yang mereka lahirkan sendiri. Makhluk makhluk baru ini merasa muak dengan kebodohan para pendahulu mereka. Mereka kemudian mulai mencari identitas baru yang lebih bisa menghantarkan mereka kepada kejernihan dan kebenaran sejati. Mereka tidak merasa aneh dan bersalah dengan apa yang mereka perbuat, karena inilah jalan yang harus ditempuh. Kekakuan yang lahir dari pendahulu mereka sudah ketinggalan jaman dan tidak mampu memuaskan dahaga mereka. Pada akhirnya makhluk makhluk baru itu berhasil membangkitkan amarah pendahulu mereka, mereka diarak, dilucuti, dan diusir.
Aku, orang asing di antara makhluk makhluk itu hanya bisa membaca dan memahami apa yang terjadi, dengan mencoba yakin bahwa hal hal yang terjadi mungkin memang sudah seharusnya terjadi tanpa ada yang mampu menolaknya.

Kata Kata Guntur at 11:06 PM

|

Tuesday, September 20, 2005

Kenapa Menikah?


Kemarin saya sms-an dengan seorang karib saat sekolah, entah apa yang kita bicarakan sebelumnya, saya sudah lupa, tapi kemudian dia membalas sms dengan mengatakan, "Saya sedang bernegosiasi dengan orang tua agar dapat menikah sembari kuliah, kamu rencana kapan?" Seketika langit mendung dan petir bersahutan (gak ding :P), yah intinya saya kaget saja. Gosh, he is 20 and will get married! Sebenarnya gak ada masalah dengan menikah usia muda, maksudnya dengan menikah itu sendiri, tapi yang menjadi masalah adalah hal-hal yang berada di sekeliling pernikahan itu sendiri, entah itu orang yang melakukannya ataupun apa-apa yang harus dipenuhi untuk menikah. Apakah dunia ini akan kiamat, sehingga untuk itu manusia harus menikah cepat-cepat?

Saya gak tau kesiapan saudara saya itu, tapi kalau saya melihat ke dalam diri saya sendiri dan mengevaluasinya, kata menikah sepertinya masih jauh sekali, jangankan mengatakannya, membayangkannya saja saya sudah ngeri. Jangan ditanya kalau masalah kesiapan materi, kalau itu saya sudah pasti mengangguk, maksudnya mengangguk belum siap, istilahnya masih berada di ketiak orang tua :P Tapi lebih dari itu, hal hal yang lebih menentukan dalam pernikahan. Ada banyak hal dalam diri ini yang menjadi alasan gak mungkin untuk melakukan pernikahan, tapi dua hal yang penting adalah kesiapan untuk berbagi dan memimpin. Gak tau deh dua kata "berbagi" dan "memimpin" itu tepat apa enggak.

Berbagi, membayangkan selama hidup saya akan berbagi dengan orang lain. Bukan hanya hal-hal yang fisik tapi juga non. Ada orang yang harus tahu segala sesuatu tentang diri saya. Saya harus menerapkan sistem transparansi dan accountable kepada seseorang selama hidup saya, karena keluarga yang ideal bagi saya adalah yang saling terbuka seperti itu. Apa yang saya punya, rasakan, akan lakukan, putuskan, dsb harus selalu melibatkan orang lain, bahkan hal yang pribadi sekalipun. Dan saya tidak hanya berbagi dengan satu orang saja, karena orang itu juga mempunyai banyak orang lain yang memback up dibelakangnya. Bagaimana hidup dengan keadaan seperti itu? Saya masih berat sekali membayangkannya. Memimpin juga begitu, memimpin diri sendiri saja rasanya masih berat. Jadwal yang sudah diatur kadang dilanggar baik secara sengaja atau tidak sengaja. Jangankan hal-hal yang berat, kaos kaki sudah dipakai beberapa hari saja terkadang saya lupa (Hal ini selalu dianggap serius oleh ibu saya, orang yang sudah menikah tentunya). Saya rasa dua hal diatas paling penting dalam memutuskan apakah harus menikah atau tidak.

Mungkin alasan di atas adalah jawaban yang tepat yang akan saya jawab kepada teman saya, tapi saya tidak menjawab sebanyak itu, akan tetapi singkat, "Kalau saat itu datang, pasti!" Lagipula, orang muda belia seperti saya ditanya seperti itu..hahaha... :P

Pertanyaan terbesar bagi saya, "bagaimana seseorang bisa yakin dengan org yg akan dinikahinya itu adalah orang yang akan mengakhiri sisa hidupnya bersama-sama?" yah, secara saya tidak suka dengan kata perceraian.

Kata Kata Guntur at 11:01 PM

|

Kebahagiaan Palsu

Saya rasa manusia itu makhluk yang mau enaknya saja. Pengen selalu bahagia. Dapat sesuatu dengan mudah kalo bisa tanpa berusaha. Merasakan sesuatu yang menyenangkan tanpa mengetahui bagaimana rasanya sakit, menderita. Senang mendapat jaminan kebenaran. Bagaimana mengetahui kalau sesuatu itu membahagiakan jika kita tidak mengetahui hal yang membuat kita tidak bahagia. Apa ukurannya kita bahagia? Jika hidup sudah terjamin, segalanya mudah, ada yang menyelamatkan, itu kah bahagia?
"Ya Allah, Tuhan Kami, berikanlah kami kebahagiaan di dunia dan di akhirat". Kenapa selalu tujuan yang diharapkan. Kenapa selalu hasil. Tidak berartikah proses yang dilalui untuk mencapai hasil. Hasil yang membahagiakan, saya rasa tidak bisa dicapai dengan jalan yang membahagiakan, mudah, terjamin dan lainnya yang memuluskan. Penderitaan adalah jalan yang memberikan rasa bahagia. Jika dari titik awal sudah dijanjikan hidup bahagia, kenapa harus menjalani hidup?!
Sialnya lagi, orang-orang yang selalu mengharapkan hasil tanpa melalui beban-beban itu menularkan kepada yang lain. Apa yang dia rasakan, ingin orang lain ikut merasakannya juga. Entah dengan jalan apa mereka menularkannya. Entah dengan kalimat apa mereka mengartikan kebahagiaan dan menyampaikannya pada orang lain. Apakah itu, dengan menyampaikan bahwa tidak ada ruang kebahagiaan jika tidak melalui masuk ke dalam pintu yang mereka anggap pintu kebahagiaan. Atau dengan mengatakan, Sang Pemberi Bahagia hanya akan menjamin bahagiamu jika kau melewati pintu yang satu, tidak yang lain. Hidup terjamin. Kebahagiaan terjaga. Keselamatan terjanjikan. Bohong semua, jika tidak ada proses melalui itu.
Lebih sialnya lagi, mereka tidak sadar, kalau apa yang mereka sampaikan justru hanya mencabik dan merendahkan apa yang mereka anggap Sang Maha Benar, Pemberi Bahagia.

Kata Kata Guntur at 10:11 PM

|

Friday, September 16, 2005

Buku Buku

Tampaknya budaya membaca bangsa ini semakin meningkat. Tampaknya sih. Terlihat dari begitu sesaknya pameran buku yang entah beberapa kali diadakan oleh IKAPI di Yogya. Pameran buku berasa pasar malam atau pasar maling di sepanjang jalan mangkubumi. "Pameran Buku Terbesar" itu judulnya pameran kali ini. Tapi tetap aja beberapa penerbit yang absen mengambil bagian. Mana penerbit favorit lagi. Tapi tak apa, terobati juga dengan diskon yang lumayan.

Dari pengembaraan mata dengan bimbingan dompet yang pas pasan, akhirnya dapat tiga buku, lumayan buat nyesak nyesakin kamar. Di stand LKiS, ada beberapa buku baru, diantaranya dua buku tentang Ahmadiyah, yang satu adalah buku hasil disertasi Prof. Iskandar Zulkarnain pada Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah pada Februari 2000 tentang Ahmadiyah, Gerakan Ahmadiyah di Indonesia. Satu lagi judulnya Mirza Ghulam Ahmad, jihad tanpa kekerasan. Penulisnya lupa. Buku ini sepertinya biografi Mirza Ghulam. Saya beli buku yang pertama. Masih di stand LKiS, dapat buku lama, bukunya Erni Budiwanti, Islam Sasak : wetu telu versus waktu lima. Jalan ke stand gramedia, eh ada obral buku 6000an. Lihat lihat. Obrak abrik. Dapat satu buku, lumayan bagus. Tapi kayaknya gak laku di pasaran, makanya di obral. Judulnya Jalan Keselamatan Dalam Konghucu. Yang nulis juga orang IAIN.

Dapat buku buku itu dengan kantong yang pas pasan lumayan juga. Ayo membaca! :P

Kata Kata Guntur at 7:47 PM

|

Titi DJ



Kehidupan di jalan adalah representasi tepat kehidupan manusia sesungguhnya. Disanalah segala emosi dan gambar tertuang dengan apa adanya. Disadari atau tidak oleh manusianya.
Saat di perempatan dan lampu hijau mulai menyala, tiap kendaraan berlomba lomba menarik gas dan berusaha menjadi yang tercepat dari yang lainnya. Entah apa yang mau dikejar. Apa karena memang tergesa gesa atau hanya memenuhi rasa puas jika menjadi yang tercepat. Di jalanan yang sempit, terkadang ada dua orang berbeda kendaraan saling mengobrol dengan tidak menyadari atau sengaja memancing emosi orang yang juga akan menggunakan jalan tersebut. Orang yang merasa terhalangi merasa bahwa mereka harus segera menggunakan jalan yang dihalangi demi mencapai tujuannya. Tapi bentuk ikatan, entah itu persahabatan, kepentingan, atau yang lain kadang menghalangi orang yang memang membutuhkan jalan itu. Di jalan yang lain, bis kota, entah karena merasa besar dan kotor sehingga tidak ada yang berani mendekatinya, menyalip dan berhenti dengan seenaknya dan dengan manis mengeluarkan asap knalpot yang luar biasa hitam, tanpa mengetahui efek yang akan ada bagi orang dibelakang yang menghirupnya. Karena merasa paling diantara yang lain, terkadang manusia menginjak sesamanya. Di jalan yang lain lagi, beberapa mobil mewah memakai separuh jalan hanya untuk menunjukkan identitasnya, tidak mengerti bahwa jalan tersebut akan dipakai oleh orang yang lain. Di pertigaan, perempatan, pemakai jalan terkadang ragu untuk meneruskan perjalanannya, karena gerakannya dibatas oleh kepentingan para pemakai jalan yang lain. Di sore hari, saat manusia sudah merasa cukup melakukan aktifitas sehari hari, dengan memakai jalan jalan itu mereka kembali ke rumah masing masing yang menjanjikan kenyamanan. Tidak ada yang melarang manusia memakai jalan jalan itu, asal mereka patuh akan aturan main yang telah ditetapkan antara mereka demi kebaikan mereka juga. Dengan begitu mereka tidak saling mengganggu dan terganggu.
.Jalan itu adalah kehidupan di dunia ini.
Hm..saya jadi berpikir, bagaimana rasanya ketika memakai jalanan dengan tenang, tiba tiba ada yang menendang dan melarang untuk memakai jalan itu,dan ironisnya lagi, yang menendang itu adalah sesama pemakai jalan. Pikiran yang aneh.

Kata Kata Guntur at 7:35 PM

|

Haloscan commenting and trackback have been added to this blog.

Kata Kata Guntur at 12:26 AM

|

Wednesday, September 14, 2005

Selamat Jalan, Cak!





Nurcholish Madjid
17 Maret 1939 - 29 Agustus 2005

Tidak ada kata terlambat untuk mengatakan selamat tinggal. Tidak ada kata basi untuk melayangkan sebuah doa. Tidak ada kata larangan untuk memohon kepada yang kuasa. Bisakah menilai ketulusan dari sebuah prasangka? Bukankah yang baik tetaplah baik walaupun yang lain menilainya buruk, sesat, jahanam bahkan laknat didepan Tuhan.
Ada yang mengatakan kalau hidup di dunia seperti mampir minum teh (atau kopi?), maka meng-absolut-kan sesuatu yang berada di dunia berarti adalah kejanggalan, bahkan kesalahan. Biarlah apa yang di dunia tetap di dunia. Memang dunia menjadi batu loncatan untuk hidup yang lebih abadi, tapi batu loncatan tidak akan pernah dibawa ketika meloncat bukan? Dan apa yang kau tinggalkan di dunia ini juga akan mendoakan mu kelak. Bukankah doa bukan hanya milik yang bisa mencibir dengan bibirnya? Bahkan batu yang bisu itu pun bertasbih menyebut namaNya.
Ya-Huwa! Sebut Yahudi akan Tuhannya. Tuhan sangat suci, sehingga mulut ini kelu menyebut namaNya. Ia teramat tidak layak dinamakan. Ia tak terdefinisi. Ia tak terbatas. Ia sangat agung. Luas. Bahkan jejaknya tak terhingga berada di bumi ini. Planet yang hanya per semilyar luasnya dibandingkan seluruh ciptaanNya. Manusia hanya bisa menggapai gapai kasihNya seperti orang kehausan di padang pasir menyaksikan takjub fatamorgana. Manusia hanya bisa meraba seperti orang buta yang mencoba mengenal sebuah benda. Tidak ada manusia yang lebih dari makhluk yang melakukan hal tak berdaya tersebut. Kecuali mereka yang merasa di tangannya ada kunci surga. Padahal mereka bohong dan tak sadar.
Tak ada doa yang terlambat. Cak, semoga serpihan serpihan kasih Tuhan yang kau kumpulkan dapat kami olah menjadi bukti kekerdilan kami dihadapanNya. Terima kasih atas segalanya.

Kata Kata Guntur at 7:23 AM

|

Perkenalan?

Senang bisa kembali ke dunia cyber untuk menulis. Walaupun yang ditulis adalah hal hal kecil yang ditemui sehari hari, yang penting berbagi cerita mengalahkan rasa rasa inferioritas dan menjawab segala pertanyaan yang berawalan kata tanya "kenapa". Tidak tahu blog ini mau dibawa kemana, tidak spesifik ke permasalahan tertentu, terserah yang membaca menilai.

Tiap pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi tiap pertemuan tidak selalu diawali perkenalan kan?! Yah anggap saja saya hanya orang yang sekedar lewat yang jangankan ingin mengenalnya, menoleh ke arahnya saja tidak, tapi ya jangan begitu banget. Tetaplah meninggalkan kesan, apapun itu. Setidaknya nama? Oh, lihat aja deh di bawah "about me" itu. Pernah dengar? saya harap belum. Memangnya selebritis atau koruptor?

Salam.

Hamba Tuhan.

Kata Kata Guntur at 6:53 AM

|
Get awesome blog templates like this one from BlogSkins.com