Weblog Siapa?

Thursday, March 30, 2006

Godaan

Sejak kecil saya menyukai cerita nabi-nabi, jika kebetulan ibu lagi ke pasar yang saya tunggu adalah ia akan membelikan sebuah buku berisi kisah para nabi. Nabi Yusuf adalah salah satu favorit saya. Ia diceritakan sangat tampan dan pintar. Tentang ketampanannya, di sekolah saya diberikan pengandaian jika sebuah bulan purnama itu dibelah, setengah belahannya akan menjadi milik Yusuf, seperempatnya adalah Muhammad dan seperempatnya lagi dibagi-bagi kepada seluruh manusia yang pernah ada di bumi ini. Jadi seganteng apapun anda, tidak akan bisa mengalahkan Yusuf 

Tetapi perjalanan hidup Yusuf tidak semulus parasnya, setelah dikhianati oleh saudara-saudaranya dan berpisah dari ayah yang dicintainya, Yakub, ia akhirnya dijual ke saudagar kaya di Mesir sebagai budak. Saudagar itu adalah Qifthir dan mempunyai seorang istri bernama Zulaikha. Yusuf dewasa yang selama itu telah bekerja untuk tuannya ternyata menarik perhatian Zulaikha hingga suatu saat ia menggoda Yusuf untuk melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan kepadanya. Setelah menutup semua pintu-pintu, Zulaikha pun semakin gencar melaksanakan aksinya hingga Yusuf hampir terpedaya dan melakukan perbuatan yang dikehendaki Zulaikha. Tetapi, pada akhirnya dengan keimanan yang kuat, Yusuf berhasil menghindarinya dengan cara berlari ke pintu dengan tangan Zulaikha yang berhasil menarik baju Yusuf hingga robek bagian belakangnya. Tak disangka, Qifthir berada di depan pintu, Zulaikha dengan cepat membaca keadaan itu dan malah berkata kepada suaminya, “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?". Yusuf tidak berusaha menyerang balik wanita itu dengan perkataan kasar atau perbuatan lain yang seharusnya pantas ia lakukan untuk membela dirinya karena bukan permasalahan kecil yang dihadapinya, ia hanya menjawab dengan sepotong kalimat, “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)" Kasus itu memang akhirnya memutuskan bahwa Zulaikha lah yang bersalah dengan bukti baju Yusuf yang robek dibelakang sebagai tanda bahwa Zulaikha yang memaksa Yusuf untuk melakukan perbuatan itu.

Zulaikha sebagai istri pesohor Mesir tidak terima dengan hal itu, apalagi ia dipermalukan dengan ucapan Qifthir kepadanya, “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar dan mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.” Maka ia mengundang seluruh wanita-wanita terkemuka Mesir pada saat itu untuk melakukan perjamuan makan di rumahnya karena atas perlakuannya terhadap Yusuf ia telah menjadi bahan pergunjingan seluruh Mesir. Ia ingin membuktikan bahwa walaupun ia telah bersalah adalah wajar jika ia ingin melakukan perbuatan itu kepada Yusuf. Ketika wanita-wanita itu telah berkumpul disuruhlah Yusuf untuk keluar agar mereka dapat melihatnya. Seketika tercenganglah wanita-wanita itu sampai sebagian mereka tidak sadar bahwa jari mereka terluka terkena pisau yang mereka pegang. Dan berkatalah Zulaikha, “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina.”

Yusuf seolah-olah mengetahui posisinya, bahwa Zulaikha memang sangat tertarik kepadanya dan jika ia tidak keluar dari permasalahan ini maka permasalahan yang lebih besar akan timbul, bukan hanya posisinya sebagai budak tetapi juga tuannya telah berbuat baik padanya selama ia sebagai budak. Pula dari awal ia telah mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” Sekarang ataupun nanti. Ia akhirnya memilih untuk keluar dari lingkaran permasalahan dengan memilih untuk dimasukkan ke dalam penjara, ia mengatakan, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” Dan dipenjaralah Yusuf sampai akhirnya ia dikeluarkan untuk membantu pemerintahan Mesir sebagai bendaharawan dan menemui Zulaikha telah tersadar akan perbuatannya yang salah, “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.”

Memang sih tidak bisa disamakan kehidupan Yusuf dengan kita sekarang, kita mempunyai banyak pilihan untuk menghindari semacam godaan tadi dan tidak harus masuk penjara untuk menghindari permasalahan itu. Tetapi ada dua hal yang menurut saya penting dari cerita nabi tampan diatas menyangkut tentang permasalahan godaan-godaan yang banyak diperbincangkan orang-orang yang merasa berkepentingan untuk membasminya.

Hal pertama adalah godaan itu tidak akan pernah selesai walaupun dihadang bagaimanapun. Ia akan berubah menjadi bentuk yang lain jika bentuk sebelumnya dihadang. Ia akan mengelabui manusia yang bertindak sebagai pembasminya melalui jalan menyerupai teman dan bahkan menyusupi manusia-manusia yang dikira dapat dilindungi oleh para manusia pembasmi godaan itu. Tidak heran, terkadang dalam keseharian kita berkata, “kok bisa?” menyangka tidak mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi dan, “padahal kan…” menyangka bahwa senjata untuk membasmi godaan itu sudah dimiliki manusia-manusia yang terlibat dalam sesuatu yang buruk itu. Mungkin ada yang dilupakan oleh manusia pembasmi godaan itu bahwa godaan itu sama tuanya dengan umur manusia itu sendiri. Ia telah ada dan akan selalu ada. Jikalau pengalamannya sama canggihnya dengan manusia, bagaimana akan menghilangkannya? Seperti Yusuf, setelah gagal diperdaya godaan tadi, maka godaan tadi berubah menjadi ancaman. Eh tetapi Yusuf berhasil mengatasi godaan itu dan menang? Itu menyangkut hal yang ke dua.

Hal kedua adalah bagaimana memperlakukan godaan. Godaan ada dengan sebab dan Yusuf mengerti sebabnya. Zulaikha sangat menginginkan dirinya dan mengundang wanita-wanita Mesir sudah menggambarkan betapa besar ketertarikan Zulaikha terhadapnya. Dan Yusuf adalah penyebab godaan itu. Jika ia tidak berada di sekitar Zulaikha lagi maka godaan itu akan berangsur-angsur hilang dan penjara adalah tempat Yusuf untuk tidak berada di sekitar Zulaikha. Seperti pengalaman Yusuf, godaan yang akan dibasmi itu pasti ada penyebabnya dan selama itu masih ada godaan akan terus menghantui. Dan hal yang tidak dilihat dari manusia pembasmi godaan itu adalah penyebab adanya godaan tersebut. Mereka terpedaya dengan liukan dan keindahan tarian godaan itu. Dikiranya godaan itu adalah masalahnya padahal mereka hanya tidak bisa menemukan tempat persembunyian yang dilakukan godaan untuk menyembunyikan penyebab keberadaannya sendiri.

Semoga mereka, manusia-manusia itu mendengar teriakan-teriakan penyebab yang hampir putus asa tak terdengar.

Kata Kata Guntur at 3:32 AM

|

Tuesday, March 28, 2006

Ulama

Beberapa hari yang lalu ketika hendak menonton Sekaten di alun-alun utara, di tengah jalan hampir mendekati perempatan kantor pos besar tiba-tiba terlihat spanduk yang mengumumkan ada pameran foto di Benteng Vredeburg. Dari kos, tujuan awal adalah ingin melihat pameran rakyat tapi malah jadi ke pameran foto. Foto-foto yang ditampilkan adalah karya fotografer Jepang Daisaku Ikeda dan beberapa fotografer Indonesia. Judul dari pameran ini adalah Dialogue with Nature. Sesuai dengan judulnya, objek utama yang ditampilkan tentu saja adalah alam dengan berbagai keindahannya. Daisaku Ikeda mengumpulkan keindahan-keindahan alam yang berserakan itu dari berbagai belahan dunia yang pernah dikunjunginya. Matahari adalah objek alam yang paling banyak diceritakan oleh Ikeda karena menurut profilnya, matahari adalah objek kedua yang mempesona hatinya setelah bulan setelah ia memulai kegemarannya memfoto. Daisaku Ikeda sebenarnya merupakan fotografer amatir yang baru mengenal kamera ketika ia berumur 43 tahun, yaitu pada saat ia mendapatkan hadiah sebuah kamera Nikkon dari seorang temannya. Bulan yang terpantul di sebuah kolam sangat menarik hatinya ketika ia sedang dalam perjalanan menuju kota Hokkaido sehingga ia menghentikan mobilnya hanya untuk mengambil 100 foto pantulan dari bulan tersebut. Daisaku dalam mengambil foto selalu membidiik dari depan dadanya hal ini akunya adalah karena ia mengambil foto melalui hatinya.

Ikeda mengatakan bahwa ia tidak pernah menjadi seorang fotografer professional dan ia hanya ingin berbagi, ia mengatakan, “Saya sangat senang jika saya dapat membagi, walaupun hanya sedikit, kegembiraan saya menyatu dengan kemegahan alam, “cermin dari hati”. Dalam jaman yang kacau seperti ini, adalah penting bagi kita untuk berhenti sejenak dari waktu ke waktu, menghela nafas yang dalam, dan melihat ke kedalaman diri sendiri dan dunia sekitar waktu.” Melalui fotonya, Ikeda seolah-olah ingin mengajak kita bukan hanya mengagumi keindahannya, tetapi juga selalu mengambil pesan yang selalu disampaikan oleh alam kepada kita, yaitu kedamaian dan ketenangan. Betapa matahari yang beredar secara teratur berpadu dengan awan dan sungai akan membentuk suasana yang damai dan indah. Betapa musim yang bergantian secara teratur memanggil bunga-bunga atau mengugurkannya sehingga membentuk pemandangan yang berbeda dengan keindahannya sendiri-sendiri. Betapa betapa ketika panen tiba, alam menyampaikan limpahan dari Yang Kuasa untuk manusia. Dengan alam, seolah-olah Ia selalu dekat walaupun kita tidak merasakannya.

Ikeda menyampakai pesan alam dengan fotonya dan mengajak kita untuk berdialog dengannya. Bagi saya, fotonya tetap lebih dari itu. Foto itu pun mengajak kita berdialog kepadaNya lewat kekuasaan ciptaanNya. “Saya selalu menekan tombol kamera dengan keinginan kuat untuk berdialog dengan alam. Hanya ketika kita, manusia, terhubung dengan alam, kita akan merasa hidup dan bersemangat. Untuk betul-betul dapat dipenuhi dengan hidup, seseorang harus berada di bawah matahari, bulan dan bintang-bintang yang bersinar, dikelilingi oleh pepohonan hijau yang indah dan air murni dari dunia yang alami.”

Saya ingat salah satu firman Allah di Fathir 27-28, Ia menyampaikan hanya orang-orang yang berpengetahuanlah yang takut kepada Allah. Ia berfirman,
“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Kata ulama disana adalah berarti orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah.

Bagi saya, saat itu Daisaku Ikeda adalah seorang ulama yang berhasil menunjukkan salah satu kekuasaan Allah lewat keindahan alam yang diabadikannya.

Kata Kata Guntur at 2:36 AM

|

Wednesday, March 22, 2006

Membandingkan

Saya tahu masalah yang dibahas memang tidak menarik tetapi entah mengapa saya tetap "gatal" untuk menulisnya disini. Ceritanya begini,

“Agama bagi saya adalah untuk ditaati dan dijalankan, bukan untuk dibanding-bandingkan.” Sebuah komentar serius yang dilontarkan dengan santai oleh seorang teman di kantin kampus pada jam makan siang. Secara pasti komentar itu pasti ditujukan kepada saya karena teman bicaranya pada saat itu hanyalah saya. Saya hanya tersenyum membalasnya komentarnya dengan sedikit berdehem sok wibawa. Saya kemudian mengalihkan pembicaraan pada topik yang lebih menarik untuk dibicarakan pada siang itu.

Pada perjalanan pulang dari kampus, saya kembali memikirkan komentar teman saya tersebut. Saya mencoba mengerti apa yang dimaksud dengan kata banding dengan segala variasinya. Sederhananya bagi saya kata banding digunakan untuk menilai atau memahami suatu hal dengan memposisikan hal itu dengan hal yang lain. Digunakan untuk menilai karena dengan melewati kata banding suatu hal itu akan lebih jelas diketahui. Suatu hal itu kemudian akan dapat diberikan identitas. Begitu pula dengan suatu hal yang dianggap sebagai pembanding itu pun menjadi jelas posisinya apa dan dimana. Dengan demikian bagaimana kita mengetahui bagaimana kita memperlakukan hal-hal yang dibandingkan tersebut. Saya rasa, kata banding itu sangat cocok dengan watak manusia yang selalu ingin mengetahui. Manusia mengetahui dan menyadari sesuatu karena membandingkannya dengan apa yang ia dapat sebelumnya.

Hal lain yang menjadi perhatian saya adalah penempatan kata banding di kalimat itu yang berada di setelah kata bukan. Disarankan aktivitas membanding-bandingkan untuk tidak dilakukan karena tidak tepat atau bahkan salah, begitu kira-kira yang bisa dimengerti dari kalimat itu. Lebih baik agama itu dijalankan saja, janganlah melihat ke sekitar anda apalagi mencoba untuk menanyakan agama itu sendiri yang diwakilkan dengan kata ditaati. Karena ini berbicara tentang agama, agaknya logika demikian tidak sejalan dengan apa yang saya pahami dalam Islam. Walaupun seorang awam saya rasa tidak ada salahnya untuk setiap saat mencoba menjadi religius. Saya paling terkesan dengan kalimat tanya retorik Al Qur’an yang menyertakan frase “apakah sama”. Disini Al Qur’an jelas membandingkan dua hal dengan tujuan Muslim mengambil kesimpulan jalan atau figure mana yang akan mereka contoh. Bahkan dalam Surah An Nahl Allah membandingkan dirinya dengan suatu yang lain agar Muslim melihat bahwa Ia memang pantas disembah. Allah menjelaskan bahwa diriNyalah yang menggerakkan sistem kehidupan di dunia ini dengan menurunkan air hujan, menumbuhkan tumbuhan untuk dimanfaatkan manusia, mengatur hubungan tata surya, gunung dan laut serta segalanya. Kemudian di ayat 16, Allah bertanya, “Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) ?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” Saya rasa Tuhan menginginkan manusia untuk tidak hanya menjalankan begitu saja apa yang diperintahkan tetapi Ia memberikan manusia segala sarana untuk mempertanyakan, membandingkan, menganalisa, dan segala usaha lainnya yang manusia ingin melewatinya.

Saya ingin melihat kepada Ibrahim. Karena bagi saya, ialah manusia pertama yang mempunyai iman sejati melewati pengalaman, pertanyaan dan pemberontakan beliau. Surah Al An’aam 74 - 79, Allah membuka cerita sejarah itu dengan pertanyaan Ibrahim kepada ayahnya, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?” dan kemudian mulai memperlihatkan tanda-tanda yang nanti membuat Ibrahim berpikir, pertama diperlihatkanlah bintang, “Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam.". Setelah itu bulan, “Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat." Kemudian matahari, “Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” Dan akhirnya beliau mengambil kesimpulan, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” Dari cerita ini, saya memahami bahwa dengan melewati perbandingan, iman sejati itu akan tumbuh dengan sendirinya dan agama menjadi tidak sekedar “menjalankan dan menaati”.

Saya tidak pernah bisa menerima beberapa Muslim yang sangat paranoid dengan kata perbandingan apalagi menyangkut masalah agama. Almarhum Mukti Ali memberikan 10 poin pentingnya perbandingan agama di dalam bukunya “ilmu perbandingan agama” yang mana kesemuannya adalah agar Muslim semakin yakin akan keislamannya. Dengan mengetahui, membandingkan kemudian memahami berbagai kehidupan batin dan alam pikiran manusia tentang agama dan Tuhan semakin mendewasakan pengalaman keagamaan yang ia peluk. Tentang agama yang dibandingkan dengan Islam, cara memperlakukannya adalah dengan mengungkapkan secara santun apa adanya menurut yang mereka percayai seraya tetap memegang nilai kebebasan beragama. Seperti apa yang diungkap oleh Abu Raihan ibn Ahmad al Biruni, tokoh muslim awal abad 11 masehi yang menulis tentang Hinduisme. Dalam bukunya, ia sepertinya mengerti bahwa apa yang ia lakukan akan mengundang ketidaksenangan kaum muslimin, oleh karenanya kepada kaum muslim ia menulis, “Jika isi kutipan-kutipan ini dirasakan sangat paganistis, dan para pengikut kebenaran, yaitu kaum muslimin, merasa keberatan terhadapnya, maka saya hanya dapat mengatakan bahwa demikian itulah keyakinan orang-orang Hindu dan mereka sangat membelanya”. Oleh karenanya, mengapa merasa “terancam” dengan perbandingan? Masalahnya bukan di perbandingan tapi bagaimana memperlakukannya kemudian.

Saya tetap akan selalu mengamini kalimat yang sering diucapkan Max Muller, bapak perbandingan agama modern itu, “He who knows one, knows none.” Amien, ya Rabbal ‘Alamien.

Kata Kata Guntur at 8:52 AM

|

Friday, December 09, 2005

Kemana Jalan


Teman saya bilang, "Sungguh saya percaya Tuhan tetapi saya tidak percaya ritual kaum beragama sekarang dan Tuhan yang mereka percaya." Yang lain bilang, "Saya sudah merasa bosan dengan agama sekarang, dimana saya bisa mengambil lagi perasaan saya terhadap agama seperti saat saya kecil." Yang lain lagi bilang, "Hidupku sudah kupersembahkan seluruhnya kepada agama. Aku sungguh tak peduli akan apapun."

Saya kadang berfikir, apakah Tuhan nantinya mempertimbangkan pengalaman pengalaman keagamaan selain dari patokan yang sudah ditulis dalam kitab suci?

Kebanyakan teman saya yang muslim termasuk saya memang besar di keluarga yang beragama islam. Sejak lahir tentu saja menurut tradisi muslim mereka sudah diperkenalkan dengan sesuatu yang berbau islam walaupun mereka hanya mendengar. Suara azan, kata Allah, Muhammad, Shalat dan Syahadat. Dan tentu saja mereka melewati acara "penebusan" mereka, aqiqah, dua ekor kambing bagi bayi laki laki dan seekor bagi bayi perempuan. Masuk TPA dan MDA setelah sekolah biasa pun mereka jalani. Malam setelah maghrib sampai menjelang isya mereka kebanyakan kembali mengaji di surau atau mushola dengan ustadz. Belajar puasa sedari kecil dan amat senang melakoninya. Beberapa dari mereka bahkan melanjutkan di pesantren yang akrab dengan kitab kuning, sarung, kyai, bahasa arab, masjid, iktikaf, tahajud, dan lain sebagainya.

Seiring berjalan waktu, ketika mata mulai terbuka, melihat ke kitab suci dan sekaligus ke dunia nyata, apa yang dulu jelas tiba tiba kabur, apa yang dahulu dipercayai dengan sepenuh hati sekarang hanya tinggal setengah, naluri mencari mulai tumbuh dan meninggalkan semua atribut yang dulu dipasang dengan bangga. Mungkin bisa juga salah langkah apa yang dialami sekarang dan mungkin saja bisa benar. Tetapi siapa yang tahu.

"Saya akan terus berjalan mencariNya, dengan sendiri, dengan hati, dengan rasa..." Kata teman saya. Saya menoleh ke dua yang lain, menunggu jawaban mereka.

Kata Kata Guntur at 2:45 AM

|

Wednesday, November 30, 2005

Apa Cinta

Sebenarnya cinta itu apa. Makhluk seperti apa yang namanya cinta. Apa definisi yang tepat untuk cinta. Seorang pria nekat bunuh diri karena wanita yang dicintainya menyukai pria lain. Seorang wanita rela meninggalkan orang tuanya yang puluhan tahun dikenalnya hanya untuk seorang pria yang baru saja dikenalnya. Seorang pria tidak mengutarakan hatinya kepada sang wanita hanya supaya cinta yang ada di hatinya tetap tak berubah. Yang lainnya rela sang wanita dinikahi pria lain dan mengabaikan perasaannya hanya agar sang wanita bahagia. Seorang wanita rela mati bersama pacarnya karena cinta mereka tidak direstui oleh orang tua.

Pada akhirnya..

I've run out of answers, I've run out of time
And I'm so confused that I'm losing my mind
It's gonna take a miracle to help me this time
I'm traveling a road that has not one sign

Help me-have mercy on me
Set my soul free and let the bell in my heart ring
This is my cry-this is my plea
I need an angel-I'm calling an angel
Send me an angel down
I need an angel-calling an angel
Send me an angel down

(Rubben Studdard - I need an angel)


Apa bener cinta antar manusia selalu penuh konflik seperti ini? Apa sih cinta itu?

Kata Kata Guntur at 11:44 PM

|

Thursday, November 24, 2005

Oh Perempuan

"Ibu bertemu suami jauh sebelum kuliah. Waktu kita masih berada di kampung. Waktu itu ia ditantang oleh teman temannya untuk kenalan sama ibu. Maklum, ia sangat pemalu. Bahkan sampai sekarang."
"Pasti bapak waktu itu sangat ganteng sehingga ibu akhirnya mau dipinang kan?"
"Tidakkah kamu lihat sampai sekarang kegantengannya masih ada?"
"Hehe iya."
"Setamat SMA, kita berpisah tapi cinta kami tetap tertaut. Ia pergi mencari kerja dan ibu melanjutkan kuliah, tak disangka ia cepat mendapatkan kerja padahal ibu waktu itu masih semester 3."
"Dan saat itu tiba?"
"Ya, bapak melamar ibu. Dan hari pernikahan ditetapkan tak jauh setelahnya. Ibu tetap kuliah dan bapak bekerja."
"Anak ibu yang pertama?"
"Ia lahir tepat 11 bulan setelah hari pernikahan. Bayi yang lucu. Jelas, seluruh cinta kami tercurah pada dia. Anak pertama."
"Dan kuliah ibu?"
"Tak jadi masalah dengan kuliah yang ibu jalani. Bahkan anak itu menjadi mainan baru teman teman ibu di kampus. Tapi, episode hidup kemudian yang menjadi masalah. Bapak dipindahkan kerja ke kota lain. Kuliah ibu harus putus."
"Semudah itu?"
"Pengabdian kepada suami lebih dari segalanya."

Aku tak melanjutkan pembicaraan itu lagi. Aku yakin keputusan ibu itu pasti tidak sesederhana itu. Pasti banyak pertimbangan dan tekanan yang dilakukan dan diterimanya sehingga harus putus kuliah. Aku kenal ibu itu adalah orang yang cerdas. Ia selalu melakukan hal dengan baik, apapun itu. Hanya satu hal yang menjadi kendala ibu itu, ia pernah cerita, yaitu ridho suami. Jilbab yang menutupi tubuhnya menjawab istri seperti apa ia sebenarnya.

Tanpa mengkaitkan dengan peristiwa hidup yang ibu itu jalani walaupun memang ada kaitannya, kemaren malam secara sekilas baca buku Farid Esack. Salah satu babnya adalah pergaulannya dengan orang yang berbeda gender. Bukan isinya yang menarik tetapi kalimat pertama pembuka bab itu. Ia mengatakan bahwa agama agama dunia telah lama dikuasai oleh laki laki, hampir semua aspek agama laki lakilah yang mempunyai peranan penting. Nabi nabi, mufasir, ahli fiqih, teolog, pejuang, bahkan tuhan memakai wujud laki laki dalam kehadirannya di sejarah manusia. Anehnya, perempuan sepertinya menjadi mahkluk yang paling taat dalam beragama. Banyak hal yang harus dilakukan dan banyak hal yang mengikat perempuan demi untuk menjadi umat yang dikasihi tuhan. Jika agama tidak menghendaki, setidaknya tafsir terhadap agama itu yang berbicara kepada umatnya dan wanita kepada khususnya.

Kata Kata Guntur at 3:39 AM

|

Friday, November 18, 2005

Manusia Bebal

Kenapa ya kamar mandi atau wc umum biasanya ada peringatan seperti, "Setelah buang air, siram sampai bersih" atau, "jagalah kebersihan dengan memyiram wc sampai bersih." Secara sekilas terdengar wajar ya, tetapi kalau diperhatikan dan dipertimbangkan dengan seksama peringatan itu gak penting penting banget. Manusia adalah makhluk berbudi, berasa dan berakal. Jika ia ingin melakukan sesuatu hal yang menurutnya gak pantas dilakukan di tempat publik, tentunya ia akan mencari tempat yang agak privasi. Sesuatu yang gak pantas dilakukan di tempat umum itu salah satunya adalah buang air. Tempat yang agak privasi itu salah satunya adalah kamar mandi. Nah, jika aktivitasnya saja ia tidak ingin dilihat, apalagi hasil dari aktivitasnya itu. Apalagi kalau sesuatu itu memang tidak layak untuk diperlihatkan ke orang lain. Tentunya ia akan mengubur dan menghilangkan hasil itu secepat dan sebersih mungkin tak berbekas. Kalau bisa bukan hanya bentuk dan warnanya tapi juga aromanya. Jadi hal yang wajar dan tidak usah diperingatkan tentang membersihkan diri dan tempat di kamar mandi. Menurutku sih.


Tapi mungkin juga karena manusia itu bagaimanapun selain berbudi dan berakal tadi, ia juga makhluk yang paling bebal. Plis ya, udah berkali kali banjir bandang dan gempa dengan skala berapapun datang, tetap aja waktu ibadah dipakai untuk ber haha hihi chatting. Udah ada bencana sedahsyat tsunami, tetap aja mengadakan pesta syahwat di tepi pantai. Udah dikasih tau kalau lampu merah itu jangan nerobos, tapi tetap aja ada yang ketabrak mampus di perempatan jalan. Udah dibilang kalau ujian jangan pake sendal, tetap aja ada yang disuruh pulang ganti sendalnya dengan sepatu. Jadi, mungkin peringatan itu hanya perlu bagi orang orang yang sudah merasakan akibat peringatan itu ya. Orang pernah chatting di waktu shalat tiba tiba terkena tsunami, setelah itu tidak akan melakukan hal yang serupa. Orang yang pernah patah tulang kecelakaan karena kelalaian sendiri akan trauma dan walaupun baru lampu kuning udah berhenti ketika di perempatan. Atau orang yang sudah terkena racun berwarna kuning beraroma busuk berbentuk gak beraturan di kamar mandi, tidak akan melakukan hal serupa kepada orang lain. Mungkin manusia harus "jahat" dulu untuk menjadi "baik" dan apa bisa manusia menjadi orang "baik" tanpa menjadi "jahat" jika pada dasarnya manusia selalu belajar dari apa yang dialami sebelumnya dari hidup yang dijalaninya? Memang sih bisa belajar dari pengalaman orang lain, tapi gak asyik ah.


Makasih buat yang menyerempetku kemarin di ring road. Memang jika ingin selamat, kalau mau ngambil jalan harus memperhatikan kanan kiri dahulu. Jatuh itu sakit. Kulit jadi gak mulus.

Kata Kata Guntur at 9:56 PM

|
Get awesome blog templates like this one from BlogSkins.com